Senin, 27 November 2023

Teman Tapi Menikah - Part1


Gambar terkait

“Lagi dimana? Main yuk.Gue yang traktir deh hari ini gantian hehe.
Ada yang mau gue omongin sama lo, ajak abang lo jugaya sekalian jalan-jalan aja” – Tanyaku kepada
manusia super sok keren ini hahaha. Manusia sok keren ini namanya Dzaki tapi aku biasa memanggilnya ‘Jakkk’ dan dia mempunyai abang yang bernama Boim tapi aku biasa memanggilnya ‘Mas im’.
Mereka mengiyakan ajakanku. Tak lama kemudian, setelah kita saling bertemu disuatu mall didaerah Jakarta timur kami langsung mengitari mall tersebut sebelum akhirnya kami mendatangi sebuah restaurant. Kami mulai memesan beberapa makanan dan minuman yang berbeda-beda. “Pesan makan dan minumnya kita jangan samaan ya.biar bisa saling mencicipi makanan dan minuman punya kita masing-masing” – kataku sambil menyodorkan buku menu ke mereka.

Setibanya makanan dan minuman pesanan kami ke meja kami, Mas im langsung memakan pesanannya dengan lahapnya namun tidak demikian dengan aku dan Jaki. Ya, aku dan Jaki masih dengan asyiknya melanjutkan obrolan kita yang makin di ceritakan makin hot pada saat itu wkwkkw.
“Jangan bilang ke anak-anak yang lain ya kalau kalian gue traktir hari ini” – Gumamku kepada sepasang abang adek ini sambil tersenyum lebar haha.
Jaki dan Mas im ini tinggal disuatu kamar kost yang biasa mereka sebut dengan ‘Apart’. Yang tinggal di apart itupun bukan hanya mereka berdua saja melainkan beberapa orang lelaki yang kesepian yang belum menemukan jodoh sejatinya wkwkkwk. Btw mereka teman-teman ku juga kok hehehe.

Selesainya kita makan dan aku bayar semua pesanan kami tadi itu tiba-tiba mas im bilang “udah ya yas ini pertama dan terkahir kalinya aja lo traktir kita” – jawab mas im setelah aku membayar bill nya
dikasir.
Saat Mas im berkata seperti itu aku merasa seperti perempuan yang sedang dikasihani karna ketidaktebalan dompetku yang dia ragukan.huh
Siang itu kami habiskan waktu dengan obrolan ringan sampai obrolan berat dan segelas milkshake dimasing-masing tangan kami.

Sejak saat itu kami jadi sering main ber-tiga, ber-dua, ber-empat bahkan sampai ber-sepuluh kalo semuanya lagi gak sibuk. Sebelum saat itu kami memang sudah sering main bareng namun dari sekian kalinya kita main ya baru kali itu aja aku yang traktir jajannya dan itupun hanya sama Jaki dan
mas im aja wkwkkw yang lain gausah.
Hingga beberapa minggu setelah itu Mas im dateng bersama dengan pamannya (Om Herry) malam hari kerumah ayahku untuk bertemu aku dan orangtua ku.
Aku sudah tau kalau mereka akan datang kerumahku karna sebelumnya om Herry mengabari ayahku yang kemudian aku dikabari oleh ayahku. Setibanya mereka datang kerumah ayahku, aku tidak langsung keluar mendatangi mereka karna aku sempat tertidur menunggu mereka datang. Tidak lama kemudian ayah membangunkan ku agar menemui mereka diluar. Tanpa basa basi om Herry dan mas im langsung mengatakan maksud dan tujuan mereka datang kerumahku malam itu.
“Gue dateng kesini dengan niat ingin menikahi lo yas, Gue serius dan gamau main-main lagi”.
- Ucap mas im malam itu.

-Sesederhana itu.

“Kok muka lo kaya gak seneng gitu yas gue dateng dengan maksud baik ini? Lo gasuka ya sama gue?” -kata mas im tiba-tiba setelah melihat muka aku yang mungkin terlihat seperti aura kesedihan atau raut muka yang tidak senang malam itu – pikirku dalam hati.
Saat itu semuanya terlihat seakan tidak baik-baik saja buatku. Aku hanya terpaku menatapnya, diam mencari tawa yang mungkin terselip diwajahnya yang serius.
Terkadang aku bertanya, “apakah dia yang akan menjadi teman hidupku selamanya?”
Dia yang datar, aneh, dan kaku. Dia yang kadang kuanggap seperti abang yang selalu menuruti apa maunya aku, suka jajanin aku dan tidak pernah mengungkitnya. Dia yang bermetamorfosa menjadi seorang lelaki sejati yang sedang mencari tambatan hati. Dia yang bertindak selayaknya gentle man disaat benar-benar yakin memilihku sebagai calon teman hidupnya.
Sejak hari itu dia sedikit berbeda kepadaku. Seolah lebih memperhatikanku, bahkan saat sedang bersama pun dia berpura-pura serius untuk tidak memperhatikanku dan bertahan ditempatnya wkwkwk.

Sering aku mendapatinya sedang curi-curi pandang menatapku dan ketika sedang menatapku seakan matanya ingin berbicara dan mengatakan sesuatu padaku.
Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku hanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Satu hal yang aku pikirkan saat itu adalah dia memilihku agar aku tidak merasa cemburu dan sakit hati lagi karna Dito bgst. Tapi bagaimana dengan mas im yang juga sedang sakit hatinya? Karna kabar yang aku dapati bahwa mas im sempat ingin melamar Syifa namun sudah keduluan orang lain atau entahlah aku tidak mengerti cerita pastinya karna setiap kutanya tentang itu mas im hanya menjawab ‘ya belum kodar aja’, gitu.

Oiya keputusan atau jawabanku saat mas im kerumahku malam itu adalah ‘iya dengan syarat’.
Jangan tanya apa syaratnya karna sebenarnya kuajukan syarat karna aku masih terkejut dengan keputusan dia memilihku menjadi calon teman hidupnya disaat aku sedang memperbaiki hatiku yang
masih berantakan karna Dito.
Suatu hari, saat itu hari selasa tanggal 12 februari 2019 dimana keadaan mengharuskan aku dan mas im bertemu dan bersama seharian untuk mengurusi salah satu urusan pekerjaan. Keadaan dimana masing-masing hati kita selalu beristigfar karna tengah berbuat dosa.”ya Alloh maafkan kami ya Alloh, kami khilaf”. Selesai mengurusi urusan pekerjaan  dikantor pemerintahan itu siang hari yang kemudian kita lanjuti dengan mencari makan siang dengan sedikit debat antara makan siang dulu atau solat dzuhur dulu. Yang akhirnya kita putuskan atau aku putuskan sih lebih tepatnya untuk makan siang dulu baru solat heehehe.
Mas im  : mau makan apa Yas?
Jasmine : mas im lagi mau makan apa?
Mas il    : gue sih terserah aja.
Jasmine : makan nasi rawon yuk, suka gak?
Mas il    : yaudah yuk cari.
Oke anggap aja kita udah sampe ditempat makannya ya, lokasinya didaerah tebet tepatnya tempat makan dipinggir kanan jalan yang pasti klo liat banner tempat makannya udah pasti maknyuslah wkwkkw.

Selama ditempat makan kita banyak ngobrol tentang apa aja,,, yaaaa yang paling banyak cerita sih mas im waktu ditempat makan nasi rawon itu tentang pekerjaannya. Aku jadi mengerti seberapa pekerja kerasnya mas im ini. Kita terus cerita bergantian, kadang tentang aku dan kadang tentang mas im, sampai tak terasa ternyata tempat makannya pun sampai sudah mau tutup dan jam sudah menunjukan angka sekitar jam 14.30 saat itu.
Diperjalanan arah pulang karna kita khawatir habisnya waktu solat dzuhur maka kita putuskan untuk mampir di sebuah mall untuk solat dzuhur.
Selesainya solat tiba-tiba mas im bilang gini :
Mas im    : mau langsung pulang atau masih mau liat-liat disini dulu Yas?
Jasmine : lah emang mas im belum mau pulang?
Mas im  : iya tadi kan kita buru-buru karna nanggung solat, nah sekarang kan udah lega ngga ada tanggungan solat lagi.
Jasmine : yaudah cari bangku yuk untuk sekedar ngobrol-ngobrol aja kita.
Akhirnya kita lanjut dengan cerita yang makin mengarah ke urusan pribadi dan sampai ke tahap pertanyaan serius mas im ke aku.

Mas im  : Yas, gue mau nanya serius nih sama lu.
Jasmine : apa? Tanya aja.
Mas im  : sebenernya lo beneran serius mau gak sih nikah sama gue?
Jasmine : yaaaa kan Jasmine udah pernah jawab pertanyaan mas im yg itu waktu mas im kerumah Jasmine kemarin.
Intinya diobrolan kita yang sampai jam5 sore itu kita obrolin tentang diri kita masing-masing, keluarga kita, keluh kesah dan kegundahan juga alasan pribadi kita masing-masing tentang rencana masa depan kita ini, bahkan kita saling menceritakan kejelekan kita masing-masing yang malesan, suka nunda pekerjaan, yang aku gasuka cuci piring atau kita yang suka tidur wkkwkkkw.
Dan akhirnya aku mengetahui dengan sangat jelas bahwa mas im ini benar-benar serius ingin menikahiku dan tidak ada raut muka yang menunjukkan kalau dia itu main-main.

Aku makin salut dengan kesiapan dia lahir bathin soal ini. Ketika aku tanya “apa benar-benar ingin melangsungkan acaranya tahun ini?” dengan lantang dia jawab iya karna alasan tidak ingin lama-lama sebab takut akan lebih banyaknya berbuat pelanggaran. Dan ketika aku tanya “emang udah ada modalnya untuk nikah?” dengan santai pun dia jawab sudah.
Dan ketika itu aku langsung makin mantap lagi untuk mengistikhoroi dan menghajati mas im untuk meyakinkan hatiku dengan dia.gumamku dalam hati.
Setelah itu kita lanjut dengan solat ashar kemudian mas il mengantar aku pulang dan dia juga pulang.

Cinta memang penuh misteri, tak bisa dimengerti, tak terduga dari mana datangnya, dari siapa, dan entah mengapa bisa berlabuh pada dua insan yang berlainan sifatnya. Cinta yang berawal dari ledekan kecil dan tatapan sekejap lalu turun ke hati kemudian berkembang seiring berjalannya waktu.

Lama semakin lama waktu kian berlalu, perhatiannya terasa lebih. Belakangan ini sepandai apapun aku memungkiri tetap tak bisa tutupi perasaan dihati. Ya aku rasa mulai menyukainya, oh Tuhan mengapa aku termakan kata-kataku sendiri yang tidak akan mungkin aku menikah dengan salah satu anak ‘apart’ dan menjadi suatu pasangan suami istri. Benar kata raisha “sekarang saja kau bilang tidak akan nanti lama-kelamaan beralih kisah kasih”. aaaaah tidak tidak, kuakui memang aku berusaha untuk tidak jatuh cinta dengan salah satu bahkan semua anak ‘apart’ karna mereka sudah kuanggap sebagai sahabatku dan tidak akan beralih dengan menjadi suamiku. Aku menepis segala yang kurasa dan apapun yang mas im katakan pada saat aku tau bahwa mas im menyukaiku. Tapi waktu, hati dan lisan berlainan.

Makin hari semakin aku terlena perhatiannya. Malah mas im semakin menunjukan rasanya dengan mendekati keluargaku dan menjenguk adikku saat sedang berada dirumah sakit. Lirikan mata, curi pandang disertai senyuman yang buat aku semakin salah tingkah. Tapi kurasa mas im pun sama salah tingkahnya apalagi ketika kami beradu pandangan sepasang bola mata yang sejenak bertangkap kemudian saling membuang pandang, hati dag dig dug, nada suara yang lewati kewajaran, kata ibuku yang berpengalaman bilang itu cinta.
Tapi aku masih tak percaya dan tetap menampiknya seakan hati belum bisa menerima warga baru karna baru kehilangan warga lama.

Hubungan kami pun terus berlanjut dan ternyata benar kata orang bahwa aksi dan sikap tak akan mengkhianati prosesnya dari pada janji yang hanya diucapkan namun tidak ada aksinya maka prosesnya pun tidak akan ada hasilnya. Dan aku percaya bahwa seseorang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapannya, tetapi hebat dalam tindakannya.

“Mungkin manusia bermain-main dengan cinta dan perasaan karna pernah terluka.
Mungkin manusia menyakiti orang lain karna dia pernah tersakiti.
Mungkin manusia menganggap cinta itu sama seperti nafsu.
Mungkin manusia memang tak pernah merasa bersyukur akan cinta.
Mungkin manusia sering melupakan bahwa cinta itu sakral, suci, tunggal dan tak bisa diduakan.
Karna memang mencintai tak sebercanda itu.”

Biarlah waktu yang menjawab dan kuserahkan semua hasil akhirnya pada ALLAH dengan selalu berdoa yang terbaik untuk masa depanku dan untuk imamku.

“Maafkan jika air mataku tersembunyi dibalik senyuman.
Dan kata – kata mesra menjadi tanpa daya karena terperangkap dalam prasangka.
Tapi Tuhan tahu....
Cinta yang kupunya lebih berwarna dari yang kau kira.”

Karna cinta tak sebercanda itu,
Berjuang bersama jelas perlu

-JsmnAndln-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar